Semana Santa di Larantuka
22.Apr.2019

Khidmatnya Semana Santa, Tradisi Paskah di Larantuka yang Menarik Perhatian Ribuan Orang


Happy Easter, peeps! Kemarin, 21 April, teman-teman kita yang beragama Nasrani merayakan hari raya Paskah untuk mengenang kebangkitan Yesus dari maut. Ngomong-ngomong soal Paskah, di Kabupaten Larantuka, Flores, NTT, ada tradisi bernama Semana Santa yang diselenggarakan sebagai rangkaian perayaan Paskah. Sejak 2018, kegiatan tahunan tersebut ditetapkan sebagai wisata religi nasional oleh Kemenpar.

0
0
0

Tiap kali diselenggarakan, Semana Santa selalu diikuti ribuan orang, baik orang NTT maupun dari luar NTT, bahkan wisatawan asing pun juga ikut serta. Nggak heran, seluruh penginapan di Flores penuh menampung para peziarah. Sampai-sampai gedung pemerintah juga dibuka sebagai tempat penginapan. Nggak ketinggalan, rumah penduduk juga dipakai untuk menginap, termasuk rumah penduduk Muslim. Mereka pun dengan senang hati mengantar dan menjemput peziarah ke dan dari lokasi Semana Santa. Indahnya toleransi!

Bangsa Portugislah yang memperkenalkan Semana Santa pada warga Larantuka. Dalam bahasa Indonesia, semana santa berarti pekan Paskah. Tahun ini, Semana Santa genap berusia 519 tahun. Rangkaian prosesi Semana Santa dimulai pada Rabu, 4 hari sebelum Paskah. Puncaknya ialah pada Jumat Agung atau dalam bahasa setempat disebut Sesta Vera.

Perarakan patung Tuan Ana pada tradisi Semana Santa di Larantuka

Sumberhttp://anareinhasistercity.blogspot.com/2012/07/melihat-kemeriahan-semana-santa-di.html

Pada Rabu pagi, warga berkumpul di rumah-rumah ibadah untuk berdoa mengenang Yesus yang dikhianati murid-Nya. Lalu, pada pukul 15.00 Wita sampai malam, warga membuat bunyi-bunyian dengan memukul alat apa pun, misalnya kaleng dan seng. Ahasil, suasana jadi rame banget nget nget. Ini sebagai penanda akan dimasukinya masa berkabung. Setelah membuat bunyi-bunyian selesai dilakukan, suasana di Larantuka benar-benar tenang, hening, dan sepi. Inilah saat dimulainya masa berkabung.

Hari berikutnya, Kamis, patung Tuan Ma (Bunda Maria) di Kapela Tuan Ma yang telah tersimpan selama setahun di peti mati, dikeluarkan, dimandikan, dan dipakaikan mantel beluduru biru. Orang yang melakukan ini nggak boleh sembarangan karena harus diangkat lewat sumpah terlebih dahulu.

Sesudah dikenakan mantel, patung Tuan Ma dapat dicium oleh para peziarah. Peziarah juga berdoa di hadapan patung itu. Keturunan Raja Larantuka adalah orang pertama yang dipersilakan mencium patung Tuan Ma. Selain patung Tuan Ma, peziarah juga mencium dan berdoa di hadapan patung Tuan Ana (Yesus) yang dibungkus kain hitam. Patung Tuan Ana berada di Kapela Tuan Ana.

Umat berdoa di depan patung Tuan Ma

Sumberhttp://ulinulin.com/posts/semana-santa-perayaan-paskah-tinggalan-portugis-di-larantuka

Masih di hari Kamis, warga melakukan Tiram Tuko, yakni memasang kayu dan bambu di sepanjang jalan. Kayu dan bambu tersebut digunakan sebagai tempat lilin dan jalan yang dipasangi kayu dan bambu adalah jalan yang nantinya dilewati saat acara puncak.

Keesokan harinya, hari Jumat yang disebut sebagai Jumat Agung, merupakan puncak kegiatan Semana Santa. Pada hari itu, patung Tuan Ana yang diletakkan dalam peti dan patung Tuan Ma diarak bersama-sama menuju Gereja Katedral Reinha Rosari. Perarakan berlangsung sekitar pukul 19.00—03.00 Wita. Itu adalah perarakan untuk mengenang kisah sengsara Yesus. Perarakan inilah yang paling dinanti-nanti para peziarah.

Perarakan patung Tuan Ma pada tradisi Semana Santa di Larantuka

Sumberhttps://www.validnews.id/Jadwal-Pemilu-2019-Bareng-Dengan-Prosesi-Semana-Santa-yru

Saat perarakan, ribuan orang tumpah ke jalan. Meskipun ada banyak orang, suasana tetap hening. Mereka semua larut dalam penghayatan kisah sengsara Yesus. Peserta perarakan akan berhenti di delapan titik dan tiap kali berhenti, mereka berlutut sejenak. Karena ini adalah perarakan untuk mengenang kisah sengsara Yesus, maka orang-orang yang ikut serta mengenakan baju berwarna gelap. Mereka juga membawa lilin.

Jalan yang dilalui dalam perarakan ini adalah jalan yang sehari sebelumnya telah dipasangi kayu dan bambu. Selama perarakan, patung Tuan Ana berada di depan dan patung Tuan Ma di belakang. Ini adalah simbol Maria sebagai ibu yang meratapi penderitaan putranya. Orang yang memikul peti yang berisi patung Tuan Ana berpakaian cukup unik, lho. Mereka memakai baju putih dengan topi merah berbentuk kerucut. Wajah mereka ditutupi karena memang identitas mereka harus dirahasiakan.

Ratusan kapal mengarak patung Tuan Meninu

Sumberhttp://picssr.com/tags/larantuka/interesting/page5

Sementara itu, 5 kilometer dari Larantuka, yakni di Rowido, ada juga perarakan yang masih merupakan bagian dari Semana Santa. Patung yang diarak adalah patung Tuan Meninu atau patung kanak-kanak Yesus. Yang bikin seru, perarakannya bukan lewat darat, tapi laut. Patung Tuan Meninu yang disimpan dalam peti ditaruh di sampan dan diarak menuju daerah Pohon Sirih. Ratusan sampan dan kapal ikut serta mengiring patung Tuan Meninu dalam perarakan ini.

Kelihatannya seru banget, ya, acara Semana Santa ini. Kalian pada tertarik nggak, nih, buat ikutan? Kalau pengen ke sana, kalian kudu rajin nabung mulai dari sekarang karena harga tiket pesawatnya mencapai jutaan rupiah. Nih, Mister kasih video buat kamu yang pengen tahu kaya gimana prosesi Semana Santa. Langsung klik di sini, ya.

Komentar