09.Aug.2019

Kayak Gimana, sih, Rumah Adat Sumba? Cari Tahu di Kampung Prai Ijing


Ingat dengan artikel tentang lokasi syuting film “Susah Sinyal”? Pada artikel itu, Mister membahas tentang lima destinasi wisata di Sumba yang dijadikan lokasi syuting film besutan Ernest Prakasa tersebut. Kali ini, masih dari Sumba, Mister akan ajak kalian mengeksplorasi kampung adat Kampung Prai Ijing.

0
0
0

Apa, sih, hal menarik yang bisa kalian temukan di Kampung Prai Ijing? Rumah adat warga Sumba! Itulah daya tarik utama kampung adat ini. Uma bokulu dan uma mbatangu. Demikian sebutan rumah adatnya. Uma bokulu berarti rumah besar dan uma mbatangu berarti rumah menara.

Kampung Prai Ijing berada di Desa Tebara, Kabupaten Sumba Barat. Dari Waikabubak, ibu kota Kabupaten Sumba Barat, Kampung Prai Ijing dapat ditempuh selama 30 menit berkendara. Untuk menuju ke sana, kalian akan melalui jalan yang menanjak karena kampung tersebut berlokasi di atas bukit Prai Ijing. Setibanya di sana, kalian bisa puas menikmati pemandangan Waikabubak dari ketinggian.

Sumber: https://fakhrianindita.com/journal/43-kampung-praijing-1-dari-1000-kampung-di-sumba

Ada 38 rumah adat Sumba di Kampung Prai Ijing. Sebelumnya, berjumlah 42, akan tetapi empat rumah di antaranya hangus terbakar pada 2000. Rumah adat Sumba berbentuk layaknya rumah panggung. Bagian luarnya dilapisi daun alang-alang. Bagian atapnya menjulang bagai menara dengan bagian ujungnya meruncing. Ada pula beberapa rumah yang atapnya landai.

Rumah adat Sumba terbagi dalam tiga bagian. Lantai bawah digunakan sebagai tempat untuk memelihara hewan ternak. Lantai tengah digunakan sebagai tempat beraktivitas para penghuninya. Lantai atas alias menara digunaka sebagai tempat untuk menyimpan stok makanan. Pada bagian menara, terdapat empat tiang yang terbagi menjadi dua tiang perempuan dan dua tiang laki-laki.

Sumber: https://fakhrianindita.com/journal/43-kampung-praijing-1-dari-1000-kampung-di-sumba

Tiang tersebut dipergunakan sebagai pintu masuk/ keluar. Tiang perempuan dekat dengan dapur, sedangkan tiang laki-laki dekat dengan ruang tamu. Pada setiap tiang terdapat bulatan dan bulatan tersebut dipercaya sebagai tempat Marapu mengawasi. Marapu adalah arwah leluhur yang dimuliakan. Itu juga adalah nama keyakinan atau agama yang dianut warga Sumba.

Kampung Prai Ijing sudah ditetapkan sebagai situs budaya oleh Pemerintah Kabupaten Sumba Barat. Kalau ingin mengekplorasi keindahan Kampung Prai Ijing, kalian harus membayar biaya retribusi sebesar Rp10.000. Gak mahal-mahal banget, kan? Akses menuju Kampung Prai Ijing termasuk mudah, lho. Jalannya sudah beraspal. Papan petunjuk pun jelas. Gak akan tersesat, deh, pokoknya.

Selain rumah adat, apa, sih, daya tarik lain yang bisa dinikmati di Kampung Prai Ijing? Di sana, kalian bisa melihat secara langsung proses pembuatan kain tenun khas Sumba yang ngehits itu. Gak cuma melihat, kalian juga diperbolehkan untuk berfoto dengan mengenakan kain tenun tersebut. Asyik, kan?

Sumber: https://fakhrianindita.com/journal/43-kampung-praijing-1-dari-1000-kampung-di-sumba

Dalam kesempatan tertentu, para penduduk Kampung Prai Ijing akan membawakan tari tradisional sebagai bentuk penyambutan kepada wisatawan yang berkunjung. Penduduk di sana cukup ramah, lho. Mereka dengan senang hati memandu pengunjung berkeliling kampung dan menjelaskan seluk-beluk kampung tersebut. Inilah kelebihan kala berwisata ke desa/ kampung wisata. Bukan cuma dapet seneng, tapi bisa sekaligus menambah wawasan melalui interaksi dengan penduduk setempat.

Sesudah puas mengagumi keindahan Kampung Prai Ijing, jangan langsung beranjak. Masih ada atraksi wisata lain di dekat situ yang juga asyik untuk dinikmati. Apa itu? Air terjun Lapopu. Bagus banget pemandangan di sana. Bisa sekalian buat berelaksasi melepas penat. Dari Kampung Prai Ijing, air terjun Lapopu dapat dicapai selama 30 menit berkendara.

Komentar