28.Apr.2020

Intip Tradisi Meugang di Aceh Untuk Menyambut Ramadan


Ramadan udah memasuki hari ke-5 nih, gimana puasanya? masih lancar dong. Apalagi puasa kali ini di rumah aja, pastinya godaan jauh lebih sedikit kan dari pada kita ada di luar rumah. Mumpung ramadan masih hangat-hangatnya, Mister mau kasih tahu nih, kalau di Aceh ada tradisi untuk menyambut bulan suci ramadan, namanya tradisi Meugang.

0
0
0

 

Tradisi Meugang ada sejak ratusan tahun lalu saat Aceh berada di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda. Tradisi ini biasanya dilakukan 2 hari atau sehari sebelum Ramadan.  Hal yang dilakukan warga Aceh saat meugang adalah makan daging bersama. Dagingnya bisa diolah jadi gulai ataupun rendang. Makanan pendampingnya adalah lemang dan tape. Lemang terbuat dari beras ketan yang diberi santan, lalu dipanggang dalam bambu. Wujudnya mirip lontong.

Yang namanya makan daging, pasti butuh beli daging, dong? Nah, biasanya, nih, seminggu sebelum meugang berlangsung, di jalan-jalan di Aceh, mulai banyak bermunculan pasar daging dadakan. Pasar ini jelas rame banget, karena warga Aceh berbondong-bondong datang ke sana buat belanja daging.

Sumber: https://acehpressphoto.com/meugang-merawat-warisan-leluhur-yang-tak-pernah-sirna/

Besar kemungkinan para penjual daging yang berjualan menjelang meugang mendapat untung banyak. Dan nggak cuma penjual daging yang untung banyak, penjual bumbu dapur pun demikian. Intinya, tradisi meugang membawa dampak positif bagi perekonomian.

Harga daging, kan, mahal. Terus, gimana dengan warga yang nggak mampu membelinya? Apakah mereka nggak bisa ikut merayakan meugang? Mereka tetap bisa merayakan meugang, kok, karena pada tradisi meugang terselip tradisi meubleem.

Pada meubleem, warga yang mampu mengumpulkan uang untuk membeli sapi atau kerbau untuk nantinya disembelih saat hari H meugang. Daging hasil sembelihan tersebut bakal dibagikan kepada warga yang kurang mampu. Jadi, mereka tetap bisa makan daging bersama, deh.

 

Sumber: https://harianrakyataceh.com/2019/05/04/sambut-ramadhan-kwpsi-gelar-tradisi-meugang/

Tradisi meubleem sebenarnya sudah dilaksanakan pada masa Sultan Iskandar Muda. Kala itu, Sultan memerintah anak buahnya untuk mendata para warga yang kekurangan secara ekonomi. Setelah mendapat datanya, Sultan membagi-bagikan uang dan daging kepada mereka.

Selain menyantap daging bersama keluarga, hal lain yang juga dilakukan warga Aceh saat meugang adalah jalan-jalan ke pantai. Yup, pantai-pantai di Aceh, khususnya di Kota Meulaboh, bakal ramai pengunjung saat meugang berlangsung.

 

Sumber: https://acehpressphoto.com/meugang-merawat-warisan-leluhur-yang-tak-pernah-sirna

Ada aturan khusus saat meugang bagi warga Aceh laki-laki yang baru saja menikah, yakni mereka harus membeli daging bagi mertua. Bahkan, dulu, ada yang sampai membawa kepala sapi atau kerbau, lho. Wuih!

Bagi anak-anak rantau alias warga Aceh yang tinggal di luar Aceh karena urusan kerja, pendidikan, dll, mereka biasanya pulang ke Aceh pada hari menjelang meugang. Yup, mereka tentu nggak ingin melewatkan kesempatan merayakan tradisi yang cuma setahun sekali itu.

Komentar