07.Aug.2019

Ternyata Begini, lho, Sejarah dan Filosofi Roti Buaya


Lelaki buaya darat, buset! Aku tertipu lagi. Jangan keburu kaget! Mister gak akan membahas soal buaya darat, kok. Buaya yang mau Mister bahas adalah buaya yang bisa dimakan. Buaya apakah itu? The one and only, roti buaya. Biasanya, nih, setelah dijadikan seserahan wajib dalam lamaran dan pernikahan orang Betawi, roti buaya dibagikan kepada para tamu. Emang iya bener seperti itu menurut tradisinya?

0
0
0

Besar. Panjang. Empuk. Enak. Begitulah roti buaya yang sering kita lihat atau nikmati selama ini. Kalau kalian kebetulan ikut dalam acara lamaran atau pernikahan orang Betawi, kalian bisa, tuh, icip-icip roti buaya. Apalagi kalau kalian masih jomlo, wajib, tuh, dapetin roti buaya. Katanya, sih, biar segera punya jodoh layaknya sang pengantin. Heheheeee.....

Zaman sekarang, usai dijadikan seserahan, roti buaya lalu dinikmati bersama-sama. Padahal, berkaca pada tradisi Betawi yang sesungguhnya, roti buaya bukan untuk dibagikan kepada para tamu, melainkan disimpan oleh para pengantin. Roti tersebut sejatinya juga bukan untuk dimakan, melainkan dijadikan pajangan. Bingung? Baca aja, deh, sampai akhir.

Sumber: https://dianabakery.id/roti-buaya/

Sebelum beranjak ke pembahasan tentang roti buaya yang nggak seharusnya dimakan, Mister mau membahas tentang buaya terlebih dahulu. Dari sekian banyak hewan, kenapa buaya? Ternyata, itu karena buaya adalah hewan yang setia terhadap pasangannya. Iya, buaya hanya kawin sekali seumur hidupnya. Gak akan selingkuh-selingkuh, deh.

Kesetian buaya terhadap pasangannya itulah yang membuat masyarakat Betawi menjadikannya seserahan dalam lamaran dan pernikahan dalam wujud roti. Diharapkan pasangan yang menikah bisa setia seperti buaya. Nggak nyangka, ya, ternyata, di balik kebuasannya, buaya termasuk hewan yang setia. Kalau buaya yang buas aja bisa setia, masa kamu enggak? #Ehhh

Sumber: http://traveltodayindonesia.com/roti-buaya-buatan-betawi-yang-legendaris/ (diambil dari www.goodindonesianfood.com)

Mengakar pada tradisi masyarakat Betawi, zaman dahulu, roti buaya yang dijadikan seserahan dibuat dari bahan keras. Semakin keras rotinya justru semakin baik. Oleh karena rotinya keras, jadi, tidak mungkin dibagikan kepada tamu apalagi dimakan. Setelah dijadikan seserahan, sepasang roti buaya (jantan dan betina) diletakkan di atas lemari yang ada di dalam kamar pengantin.

Setelah diletakkan di atas lemari, lantas diapakan? Tidak diapa-apakan. Dibiarkan begitu saja sampai membusuk. Itu adalah simbol kesetiaan pasangan suami dan istri. Simbol bahwa hanya mautlah satu-satunya hal yang dapat memisahkan cinta mereka berdua. Dalam sekali, ya.

Sumber: https://www.flickr.com/photos/irsyadi/with/4756887936/ (foto oleh Syafiq Irsyadi)

Bahkan, nih, dulu banget, sebelum berupa roti keras, buaya dijadikan seserahan dalam bentuk replika yang terbuat dari daun kelapa atau kayu. Kalau yang itu, sih, bener-bener gak bisa dimakan. Itu dulu. Sekarang? Roti buaya nggak lagi keras, tapi empuk, bahkan diisi berbagi rasa, seperti cokelat, stroberi, dan pandan. Roti buaya nggak disimpan di lemari dalam kamar pengantin, tapi “disimpan” di perut para tamu. Zaman berubah, perlakuan terhadap roti buaya pun berubah.

Jadi gitu ges, sedikit cerita dari seserahan roti buaya. Bukan cuma empuk dan enak, tapi juga sangat dalam maknanya, yakni kesetiaan terhadap pasangan. Pemberian roti buaya dari pengantin pria kepada pengantin wanita adalah lambang bahwa sang pengantin pria akan terus setia terhadap sang pengantin wanita sampai akhir hayatnya.

Komentar