06.Aug.2019

Saat Ribuan Penari Menggebrak Banyuwangi pada Festival Gandrung Sewu


Pernahkah tebersit di benak kalian menyaksikan secara langsung ribuan penari tumpah ruah di satu tempat? Pasti menyenangkan sekali bila itu bisa terwujud. Di Banyuwangi, Jawa Timur, ada, lho, sebuah festival yang melibatkan ribuan penari, namanya Festival Gandrung Sewu. Kalau kalian bisa menyaksikannya, wah, beruntung sekali. Kalian akan dibuat takjub dengan pertunjukkan kolosal tersebut.

0
0
0

Tari Gandrung adalah tarian tradisional asal Bumi Blambangan alias Banyuwangi yang melambangkan ucapan syukur masyarakat kepada Dewi Sri atas keberhasilan panen. Dulu, ketika zaman penjajahan, tari Gandrung dibawakan sebagai upaya untuk mengecoh penjajah.

Pada awalnya, tari Gandrung hanya ditarikan oleh laki-laki yang berdandan layaknya perempuan. Gandrung lanang. Demikian julukan para lelaki yang menjadi penari Gandrung. Seiring berjalannya waktu, laki-laki penari Gandrung sudah tidak lagi ditemukan. Kini, tari Gandrung umumnya dibawakan perempuan.

Sumber: https://beritagar.id/artikel/piknik/festival-gandrung-sewu-di-banyuwangi (diambil dari Hendropranyoto /Shutterstock)

Itulah sekilas tentang tari Gandrung. Sekarang, saatnya membahas Festival Gandrung Sewu. Dalam bahasa Jawa, sewu berarti seribu. Penari yang berpartisipasi dalam festival tersebut memang berjumlah seribu, bahkan lebih. Bisa menjadi salah satu penari dalam Festival Gandrung Sewu merupakan suatu kebanggaan. Pasalnya, seleksinya sangat ketat. Dari 3.000 lebih pendaftar, hanya diambil 1.000-an orang.

Sebagian besar penari Festival Gandrung Sewu adalah pelajar SMP dan SMA. Semuanya perempuan. Mereka tidak sekadar menari, melainkan juga harus paham lirik dalam musik pengiringnya serta sejarah tarian tersebut. Menjadi penari Festival Gandrung Sewu juga butuh perjuangan. Mereka harus mulai berlatih sejak 1 tahun sebelumnya. Belum lagi harus membagi waktu dengan studi. Salut banget, deh, buat para penarinya!

Sumber: http://www.banyuwangibagus.com/2017/10/gandrung-sewu-2017-kembang-pepe.html

Lantas, bagaimana, ya, melatih penari sebanyak itu? Para pelatih menerapkan sistem gethok tular. Para senior dilatih terlebih dahulu sampai mahir. Setelahnya, para senior melatih adik-adiknya yang terbagi dalam beberapa zona. Mendekati hari H festival, seluruh penari akan berlatih serentak.

Festival Gandrung Sewu selalu sukses menarik minat wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Lonjakan wisatawan saat penyelenggaraan Festival Gandrung Sewu jelas menguntungkan banyak pihak, seperti pengusaha restoran dan pemilik penginapan. Bahkan, penjual makanan di pinggir jalan pun juga merasakan imbas positif atas banyaknya wisatawan yang datang untuk menyaksikan Festival Gandrung Sewu.

2d8d02db-919b-4225-99e4-8d7f91b72ab1 (1018×719)

Sumber: https://travel.detik.com/travel-news/d-4265890/ini-cerita-layar-kumendung-dalam-festival-gandrung-sewu-2018/komentar (foto oleh Ardian Fanani/detikTravel)

Pada 2018 lalu, Festival Gandrung Sewu diselenggarakan di Pantai Boom. Ini terasa istimewa karena wisatawan bisa sekaligus menikmati keindahan salah satu kekayaan alam di Banyuwangi itu. Saat itu, sebanyak 1.173 orang penari cantik berselendang merah memenuhi bibir pantai. Dengan lemah gemulai, mereka membawakan tari Gandrung.

Selain menampilkan tari Gandrung yang menjadi suguhan utama, pada 2018 lalu, Festival Gandrung Sewu juga menampilkan drama yang bertajuk Layar Kumendhung. Drama tersebut berkisah tentang perjuangan Raden Mas Alit, Bupati Banyuwangi pertama, dalam menentang VOC hingga akhirnya tewas dalam sebuah pelayaran. Tujuan ditampilkannya drama Layar Kumendhung adalah agar penonton tidak sekadar mengagumi keindahan tari Gandrung, melainkan juga ingat dengan perjuangan para pahlawan.

Festival Gandrung Sewu digelar sejak 2012. Ketika pertama kali diselenggarakan, festival tersebut sudah memecahkan rekor MURI sebagai acara dengan jumlah penari terbanyak, yakni 1.047 orang.

Komentar