30.Aug.2019

Mengenal Lebong Tandai, Desa yang Punya Arti Penting untuk Jakarta


Bukan kota besar, melainkan desa terpencil. Lokasinya sangat jauh dari ibu kota Indonesia, yakni di Provinsi Bengkulu. Namun, ada satu hal yang seolah mendekatkan desa itu dengan Jakarta. Logam mulia di puncak bangunan tetenger Jakarta berasal darinya. Jauh di mata, dekat di hati. Mungkin, itulah kiasan yang tepat untuk menggambarkan hubungan Lembong Tandai dan Jakarta.

0
0
0

Logam mulia di puncak bangunan tetenger Jakarta berasal darinya. Pahamkah kalian dengan kalimat ini? Mari Mister perjelas. Logam mulia adalah sebutan lain untuk emas salah satunya. Bangunan tetenger Jakarta tak lain dan tak bukan adalah Monumen Nasional (Monas).

Ya, emas di puncak Monas berasal dari Desa Lebong Tandai. Emas tersebut merupakan pemberian pengusaha asal Aceh bernama Teuku Markam. Ia mengambilnya dari tambang emas di Desa Lebong Tandai. Baru tahu, kan? Atau malah sudah tahu?

Desa Lebong Tandai masuk dalam wilayah Kabupaten Bengkulu Utara. Desa tersebut memang dikenal sebagai tambang emas. Itu dulu. Sekarang, jumlah tambang emasnya sudah berkurang drastis, sudah habis dikeruk. Meskipun demikian, warga di sana masih bertahan bekerja sebagai pengolah dan penambang emas. Bukan menggali tambang emas baru, melainkan menggali sisa-sisa emas di tambang lama.

Sumber: http://ariecsrc002.blogspot.com/2011/04/lebong-tandai-riwayatmu-dulu.html

Glundung emas. Demikian nama alat yang digunakan warga untuk mengolah emas. Wujudnya berupa tabung yang terbuat dari besi yang dibebat dengan sabuk yang terbuat dari ban bekas. Fungsinya adalah untuk memisahkan emas dari batuan. Caranya adalah dengan merendam batu emas dengan air raksa.

Harga satu glundung emas tidak murah, bisa mencapai Rp1 juta. Satu set alat pengolahan emas terdiri dari 10—15 glundung emas. Bisa dibayangkan betapa banyak uang yang dikeluarkan warga Desa Lembong Tendai untuk membeli alat tersebut.

Mulanya, tidak ada yang tahu bahwa Desa Lebong Tandai punya sumber daya emas yang melimpah ruah. Bangsa Belandalah yang berhasil mengungkapnya. Saat datang ke Indonesia, Belanda berhasil menemukan tambang-tambang emas di Bengkulu, salah satunya di Desa Lebong Tendai.

Sumber: http://ariecsrc002.blogspot.com/2011/04/lebong-tandai-riwayatmu-dulu.html

Perusahaan penambangan emas milik Belanda yang didirkan di Lebong Tendai sukses berat. Dalam sehari, perusahaan mampu memproduksi sedikitnya 10 kg emas siap jual. Semenjak itulah, Desa Lebong Tandai dikenal sebagai tambang emas.

Desa yang semula terkucil akhirnya dikenal luas. Desa yang semula minim fasilitas akhirnya punya fasilitas lengkap. Ada rumah sakit, tempat ibadah, kantor pos, minimarket, landasan helikopter, fasilitas olahraga, dan fasilitas hiburan. Lebong Tandai tak ubahnya Jakarta yang juga punya segudang fasilitas penunjang. Oleh karenanya, dulu, desa tersebut dijuluki sebagai Batavia (Jakarta) kecil.

Ada dua keunikan yang bisa kalian temukan kala berkunjung ke Desa Lebong Tandai. Pertama, kincir air. Benda tersebut ada sejak zaman Belanda. Fungsinya adalah sebagai sumber listrik. Kincirnya berupa roda-roda besar berbahan kayu tersebar di Sungai Lusang. Oleh warga setempat, kincir air tersebut dijuluki Si Uniyil Orang Tandai.

Sumber: https://www.smartrie.id/batavia-kecil-desa-terpencil-diperebutkan-banyak-negara/

Keunikan kedua adalah molek, satu-satunya transportasi untuk menuju Desa Lebong Tandai. Molek merupakan singkatan dari motor lori ekspress. Wujudnya berupa kereta bermesin diesel. Molek adalah kendaraan peninggalan Belanda.

Ketika Belanda masih berkuasa, molek bernama lori yang digunakan untuk mengangkut emas. Rel lori peninggalan Belanda pun masih ada hingga kini. Pada 1997, oleh warga Lebong Tandai bernama Wan Tanggang, lori lantas dimodifikasi menjadi molek.

Perjalanan naik molek menuju Desa Lebong Tandai dimulai dari stasiun molek di Desa Air Tenang. Dari Desa Air Tenang, berlanjut ke Ronggeng. Dari Ronggeng, penumpang transit berganti molek menuju Sumpit. Dari Sumpit, molek akan mengantarkan penumpang menuju Desa Lebong Tandai. Perjalanan memakan waktu 5—6 jam. Total harga tiket molek untuk satu kali perjalanan menuju Lebong Tandai ialah Rp100.000.

Sumber: http://ariecsrc002.blogspot.com/2011/04/lebong-tandai-riwayatmu-dulu.html

Adakah objek wisata di Desa Lebong Tandai? Ada tentunya. Salah satu yang cukup menarik dikunjungi adalah air terjun setinggi 25 m yang di sungai bawahnya terdapat ikan kelari, ikan yang hanya bisa ditemukan di sana. Ada pula air terjun setinggi 4—5 m yang dijuluki sebagai Air Terjun Pemandian Dewa. Konon, air terjung tersebut digunakan sebagai tempat mandi oleh dewa-dewi.

Oh, ya, para cowok yang masih jomlo bisa dapet jodoh kalau berkunjung ke Desa Lebong Tandai. Di sana, ada kolam pemandian yang dulunya dijadikan tempat mandi oleh noni-noni Belanda. Nah, mitosya, para cowok jomlo yang mandi di kolam itu akan bisa segera dapat pasangan hidup alias kekasih alias pacar. Berminat mencoba?

Komentar