18.Jan.2019

Kenali 5 Tradisi Jawa yang Menarik Ini


Indonesia adalah negara multikultural yang menyimpan beragam budaya. Salah satu kekayaan budaya Indonesia bisa kita lihat dari tradisi Jawa. Tradisi-tradisi tersebut berasal dari nenek moyang yang hidup ratusan tahun silam dan hingga kini masih dilestarikan. Ingin tahu apa saja tradisi menarik orang-orang Jawa? Mister punya daftarnya di bawah ini.

0
0
0

1. Ruwatan Sumber di Mojokerto, Jawa Timur

Tradisi Jawa - Ruwatan Sumber di Mojokerto, Jatim

Sumber fotohttps://sekilasmedia.com/prosesi-ritual-pertirtaan-jolotundo-diserbu-ribuan-warga/

Makna tradisi Ruwatan Sumber adalah untuk mengucap syukur atas melimpahnya air sekaligus sebagai keyakinan bahwa air adalah sumber kehidupan. Lokasi pelaksanaannya di sumber air Petirtaan Jolotundo di lereng barat Gunung Penanggungan.

Saat melaksanakan tradisi ini, pertama-tama, warga akan mengambil air dari 33 mata air yang tersebar di lereng barat, timur, selatan, dan utara Gunung Penanggungan. Air tersebut dimasukkan dalam kendi dan diarak menuju Petirtaan Jolotundo. Saat arak-arakan inilah saat yang seru karena juga disertai nasi tumpeng, jajan pasar, buah, dan sayur. Lumayan banyak, ya. Dan ketika sudah sampai di Petirtaan Jolutundo, selanjutnya warga akan sembahyang.

Konon katanya, air dari Petirtaan Jolotundo diyakini dapat menyembuhkan penyakit dan membuat awet muda. Wih, sakti bener, ya! Ada yang berminat nggak, nih, buat nyobain air Petirtaan Jolutundo?

2. Jamasan Keris di Sumenep, Jawa Timur

Tradisi Jawa - Penjamasan Keris di Sumenep, Jatim

Sumber fotohttp://www.madurazone.co/2018/09/di-jamasan-pusaka-keris-bupati-sumenep-dorong-peningkatan-ekonomi-warga/

Jamasan artinya pembersihan. Tradisi penjamasan di Sumenep dilakukan untuk membersihkan keris buatan warga Desa Aeng Tong-tong. Desa tersebut memang terkenal sebagai desa penghasil keris yang digunakan di Keraton Sumenep.

Lokasi jamasan keris ialah di komplek pemakaman Bujuk Agung. Tidak sembarang orang, lho, boleh menjamas keris. Jamasan hanya boleh dilakukan orang dewasa yang benar-benar paham seluk-beluk keris. Bahan untuk menjamasnya juga nggak sembarangan. Ada minyak kelapa hijau yang belum menyentuh tanah, air kembang, plus air dari tujuh sumur kuno di Sumenep. Lumayan ribet, ya.

Setelah dijamas, keris-keris diarak sambil diiringi kesenian tradisional. Oh, ya, harga keris buatan warga Desa Aeng Tong-tong lumayan mahal, lho. Bayangin, yang paling “murah” aja Rp200.000. Yang paling mahal? Rp10 juta. Berminat beli?

3. Gebyar Bustaman di Semarang, Jawa Tengah

Tradisi Jawa - Gebyar Bustaman di Semarang, JatengSumber fotohttps://www.genpi.co/berita/9969/gebyuran-bustaman-tradisi-perang-air-menjelang-ramadhan (foto oleh Gus Wahid)

Gak perlu jauh-jauh menghadiri Songkran Festival di Thailand kalau pengen nonton keseruan pesta siram-siraman air. Di Indonesia juga ada, yakni di Kampung Bustaman, Kota Semarang. Namanya Gebyar Bustaman.

Tradisi Gebyar Bustaman dilaksanakan seminggu sebelum Ramadan. Makna tradisi ini adalah untuk membersihkan diri supaya siap lahir dan batin untuk menjalani puasa. Air disiapkan dalam plastik, ember, atau baskom. Bisa juga langsung dari selang air. Warga saling menyiram air ke satu sama lain selama 2—3 jam.

Sesudah capek siram-siraman air selama berjam-jam, warga bisa langsung makan nasi urap dan minum teh hangat. Semua harus makan dan minum alias nggak boleh nolak.

4. Lopisan di Pekalongan, Jawa Tengah

Tradisi Jawa - Lopisan di Pekalongan, Jateng

Sumber fotohttps://www.kompasiana.com/anangsaefulloh/55b1e246cc9273d3045b33f0/tradisi-syawalan-di-kota-pekalongan-pelajaran-penting-mempersatukan-bangsa

Tahu lopis, gak? Itu, tuh, jajanan pasar mirip lontong yang terbuat dari ketan. Nah, di Kabupaten Pekalongan, jajanan pasar itu dijadikan nama sebuah tradisi, yakni Lopisan.

Tradisi Lopisan dilaksanakan 7 hari setelah Idul Fitri. Dalam tradisi ini, warga akan saling berebut jajan lopis raksasa yang dibentuk menjulang ke atas. Kenapa raksasa? Nih, ya, diameter lopisnya 1,5 m, terus tingginya 2 m, plus beratnya mencapai ribuan kg. Bisa bayangin, kan, gimana gedhenya lopis ini?

Kenapa yang digunakan lopis? Itu karena lopis terbuat dari ketan dan ketan itu lengket. Nah, lengketnya ketan  melambangkan kerekatan dan persatuan antar warga. Dibutuhkan 4 kuintal ketan dan durasi selama 5 hari untuk membuat lopis raksasa. Pasti pada pegel, tuh, ya, pembuat lopisnya.

5. Kembul Sewu Dulur di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)

Tradisi Jawa - Kembul Sewu Dulur di Kulon Progo, DIY

Sumber fotohttp://menggapaicitaku.blogspot.com/2016/11/kemeriahan-acara-festival-kembul-sewu.html

Kembul Sewu Dulur berarti makan bersama seribu saudara. Makna tradisi ini adalah untuk mempererat kebersamaan sekaligus mengucap syukur pada Tuhan. Lokasi pelaksanaannya di Bendungan Kayangan.

Tujuan lain tradisi Kembul Sewu Dulur adalah untuk mengenang jasa Mbah Bei yang diyakini sebagai orang yang membuat Bendungan Kayangan. Tradisi ini diawali dengan kirab yang dimeriahkan  beragam kesenian tradisional, salah satunya jaranan. Yang menarik, setelah seni jaranan ditampilkan, jaran alias kuda palsu yang terbuat dari bambu tersebut kemudian dimandikan di Bendungan Kayangan.

Puncak tradisi Kembul Sewu Dulur adalah makan bersama. Dua menu yang wajib disajikan adalah bothok ikan lele dan telur ceplok yang nggak dikasih garam dan bumbu lain. Dengan kata lain, rasanya tawar. Unik, ya, menunya.

Komentar