Kenalan Sama 5 Agama Asli Indonesia yang Makin Langka Ini, yuk!


Masih inget sama pelajaran PPKn jaman SD? Dari dulu, kita diajarin kalau agama di Indonesia itu ada 5 (yang kemudian nambah jadi 6, terima kasih kepada Bapak Abdurrahman Wahid, mantan presiden kita). Kita jadi yakin kalau seluruh rakyat Indonesia pasti memeluk Islam, Katolik, Kristen Protestan, Hindu, atau Buddha, gak ada yang lain. Tapi, sadar gak kamu kalau semua agama tersebut ‘diimpor’ dari luar? Padahal, jauh sebelum agama-agama ini masuk, Indonesia udah punya banyak agama lokal, lho. Namun, karena situasi politik jaman dulu, mereka terpaksa harus milih salah satu agama yang diakui pemerintah. Nah, sebelum agama-agama lokal ini punah, yuk kita kenalan lebih lanjut!

0
0
0

1. Kejawen

sumber foto: boombastis.com

Dulu, di jaman penjajahan Belanda, para penganut Kejawen juga sering disebut ‘Islam Abangan’. Sebenernya, di antara masyarakat Jawa sendiri, ada yang menganggap kalau Kejawen adalah warisan leluhur yang masih berhubungan dengan ajaran Islam dan dipengaruhi unsur Hindu dan Buddha. Mereka juga mewajibkan penganutnya buat menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Mirip-mirip ‘takwa’ dalam Islam. Selain itu, penganut Kejawen juga harus mengamalkan empat hal: (1) jadi rahmat bagi diri sendiri (Mamayu Hayuning Pribadhi); (2) rahmat bagi keluarga (Mamayu Hayuning Kaluwarga); (3) rahmat bagi sesama manusia (Mamayu Hayuning Sasama); dan rahmat bagi alam semesta (Mamayu Hayuning Bhuwana). Kalau ngomongin soal ritualnya, penganut kejawen biasa ngejalanin Tapa (bertapa) dan Pasa (puasa).

2. Sunda Wiwitan

sumber foto: lyceum.id

Pernah main ke perkampungan suku Baduy atau Kampung Naga? Kalau kamu bertanya-tanya apa agama mereka, jawabannya adalah Sunda Wiwitan. Selain memuja roh nenek moyang dan dewa, mereka juga memuja satu Tuhan tertinggi gak berwujud yang mereka sebut Sang Hyang Kersa. Mereka yakin akan keberadaan tiga alam: (1) Buana Nyungcung, tempat bersemayamnya Sang Hyang Kersa); (2) Buana Panca tengah, tempat tinggal manusia dan makhluk lainnya; dan (3) Buana Larang, yaitu neraka.

Kalau berdoa, penganut Sunda Wiwitan melakukannya sambil berpantun, nyanyi, atau nari. Biasanya, mereka ngelakuinnya di tempat pemujaan mereka berupa punden berundak yang disebut Pamunjungan/Kabuyutan. Bingung punden berundak kayak gimana? Kamu bayangin aja bangunan yang bentuknya kayak teras bertingkat yang mengerucut di bagian tertingginya.

3. Marapu

sumber foto: diataka.blogspot.co.id

Ini dia agama aslinya orang Pulau Sumba di NTT. Mereka memuja roh (marapu) yang bersemayam di alam berbeda. Marapu ini mirip manusia tapi versi yang lebih unggul. Mereka ada yang laki-laki dan perempuan, bisa menikah, dan sebagainya. Penganut Marapu percaya kalau setiap orang yang meninggal bakal masuk ke dunia baru disebut Prai Marapu. Deskripsinya mirip-mirip sama gambaran surga dan neraka versi Islam, Kristen, dan sebagainya, deh. Hal lain yang unik dari penganut Marapu adalah tempat pemujaannya yang beragam. Setiap uma (rumah) punya fungsinya sendiri. Ada uma buat minta kekayaan, uma untuk minta doa sebelum perang, uma untuk memohon berkat bagi pengantin baru, dan masih banyak lagi.

4. Ugamo Malim atau Parmalim

sumber foto: ceritamedan.com

Agama yang dianut ‘hanya’ 10 ribu orang ini berasal dari Sumatera Utara, tepatnya di kawasan Toba. Denger-denger, sih, ajarannya punya kesamaan dengan Yahudi Kuno, antara lain aturan menikahi Pariban (menikahi putri paman dari pihak ibu). Para penganut Ugamo Malim nyebut Tuhan mereka dengan nama Debata Mula Jadi Na Bolon (Pencipta manusia dan bumi beserta segala isinya). Mereka percaya ‘perkawinan’ Tuhan dan istrinya, yaitu Manuk Patiaraja, melahirkan tiga buah telur yang menetas jadi Batara Guru, Soripada, dan Mangala Bulan. Ketiga dewa ini kemudian menciptakan tiga tingkat dunia, yaitu (1) Banua Ginjang, tempat tinggal dewa; (2) Banua tonga, tempat tinggal manusia; dan (3) Banua Toru, tempat tinggal ular mitologis bernama Naga Padoha, sang simbol kejahatan.

5. Kaharingan

sumber foto: japrocreative.blogspot.co.id

Kalau ngeliat catatan sejarah bangsa kita, pemeluk Kaharingan paling banyak yang ‘dipaksa’ ngaku Hindu di KTP cuma karena beberapa ritual mereka mirip sama Hindu. Uniknya, penganut Kaharingan nyebut Tuhan dengan 3 istilah yang beda. Di Barito, Tuhan mereka disebut Yustu Ha Latalla. Di Kotawaringin Barat, Tuhan dipangil Sanghyang Dewata. Di beberapa tempat lainnya, mayoritas penganut Kaharingan memanggil Tuhan dengan sebutan Ranying Hatalla Langit (Kuasa Yang Maha Besar). Ritual mereka juga gak kalah unik. Ada Baserah, ibadah yang dilakukan tiap Kamis dan ada juga upacara Tiwah untuk ‘merayakan’ kematian anggota keluarga. Selama upacara ini, hewan ternak dikumpulin di pusat lingkaran yang terdiri atas banyak orang. Sambil nari, para anggota keluarga orang yang meninggal bakal menombak hewan-hewan tersebut sampai berkali-kali.

Komentar

Tinggalkan Komentar: