25.Feb.2020

Kalian Penggemar Kesenian Tradisional? Nih, Ada Wayang Timplong Asal Nganjuk


Kabupaten Nganjuk di Jawa Timur punya kesenian khas yang mungkin nggak banyak orang kenal, yakni wayang timplong. Dulu, tiap kali warga Nganjuk menggelar bersih desa, wayang tersebut selalu ditampilkan. Bentuknya mirip wayang kulit. Tapi, untuk bahan pembuatannya jelas berbeda. Kalau ingin tahu lebih lanjut soal wayang timplong asal Nganjuk, yuk, langsung dibaca ulasannya di bawah ini.

0
0
0

Oke, kalian mungkin bingung dengan wayang timplong, bahkan yang tinggal di Jawa Timur sekalipun. Kalau wayang kulit, kalian mungkin masih ngeh. Nah, kalau wayang timplong? Zaman sekarang, wayang tersebut emang nggak lagi beken. Jadi, wajar kalau kalian nggak tahu.

Wayang timplong terbuat dari kayu mentaos. Karakteristik kayu tersebut adalah padat, ringan, dan empuk. Sama kayak wayang kulit, wayang timplong cuma dibuat nampak samping. Pertunjukan wayang timplong disertai dengan iringan gamelan, yakni gambang, gong, kempul, dan kenong.

Ada dua versi tentang penamaan timplong. Pertama, timplong berasal dari suara timplang timplong timplang timplong yang ditimbulkan dari iringan gamelan. Kedua, timplong merupakan singkatan dari dari kata tintrim dan mlolong.

Sumber: http://sdnwonocolo2taman.blogspot.com/2015/08/wayang-timplong-dari-dusun-bungkal.html

Pada pertunjukan pertama wayang timplong dengan dalang R. Sariguno, penonton begitu terpukau sampai-sampai suasana menjadi hening (tintrim). Dan saking terpukaunya, penonton sampai terbelalak matanya (mlolong) ketika menonton. Kata tintrim dan mlolong inilah yang disingkat menjadi timplong.

Adalah Desa Jetis di Nganjuk yang menjadi tempat lahirnya wayang timplong. Nama penemunya adalah Mbah Bancol. Suatu hari, Mbah Bancol berburu kayu di hutan. Konon katanya, pada salah satu kayu yang ia temukan, terlihat ukiran yang mirip wayang.

Seakan mendapat petunjuk gaib, Mbah Bancol kemudian memahat kayu tersebut dan membentuknya menjadi sebuah wayang. Ia terus melanjutkan kegiatan memahat tersebut sampai terbentuk banyak wayang. Mbah Bancol lalu mencoba memainkan wayang-wayang tersebut dengan iringan gamelan.

Sumber: https://jawatimuran.wordpress.com/2012/07/22/wayang-timplong-kabupaten-nganjuk/

Wayang timplong sering dimainkan saat bersih desa. Itu adalah ritual yang dilakukan warga untuk mengucap syukur pada Tuhan atas berkat yang mereka terima sekaligus untuk memohon keselamatan.

Pada permohonan keselamatan itulah wayang timplong berperan sebab wayang terebut dipercaya punya kekuatan yang dapat menjauhkan warga dari marabahaya. Lalu, seiring bergulirnya waktu, wayang timplong juga dimainkan sebagai acara hiburan pada hajatan.

Ada 6 – 8 pemain dalam pementasan wayang timplong. Satu orang sebagai dalang, 1 – 2 orang sebagai sinden, dan empat orang sebagai pengrawit (pemain gamelan). Cerita yang diangkat ialah asal-usul daerah dan legenda, misalnya tentang Kerajaan Kediri (Nganjuk masih berkaitan erat dengan Kerajaan Kediri).

Sumber: https://budaya-indonesia.org/Wayang-yang-terbuat-dari-kayu-di-Nganjuk

Tokoh pada wayang timplong nggak mempunyai nama kayak wayang kulit (Arjuna, Shinta, Gatotkaca, dll), tapi hanya diberi julukan ratu, prabu, dan panji.

Di masa jayanya, pertunjukan wayang timplong bisa kalian saksikan setiap hari. Semakin ke sini, semakin jarang. Nggak banyak dalang wayang timplong yang bertahan. Regenerasi pun nggak berjalan. Sungguh sayang memang.

Komentar