31.Jul.2019

Bersantap ala Tempoe Doeloe di Toko Oen, Malang


Yak opo kabare kera Ngalam (baca: arek Malang)? Setelah sekian lama Mister gak membahas soal Malang, akhirnya Mister kembali dengan informasi seputar Malang. Yipiii! Kera Ngalam pasti tahu Toko Oen, kan? Restoran tempoe doeloe itulah yang Mister bahas pada blog ini. Bagi Aladiners non-kera Ngalam yang berencana melancong ke Malang, wajib hukumnya untuk singgah ke Toko Oen.

0
0
0

WELKOM IN MALANG. TOKO “OEN” DIE SINDS 1930 AAN DE GASTEN GEZELLIGHEID GEEFT. Tulisan merah di spanduk putih itu menyambut setiap pengunjung yang datang ke Toko Oen. Bila diterjemahkan ke bahasa Indonesia, artinya kira-kira begini: SELAMAT DATANG DI MALANG. TOKO OEN, SEJAK 1930, TELAH MEMBERIKAN KENYAMANAN BAGI PARA TAMU.

Puluhan tahun berdiri, bangunan asli Toko Oen beserta interiornya tetap dipertahankan. Tidak berubah sama sekali. Meja dan kursi mini dari rotan, kursi kayu kuno, piano tua di sudut ruangan, radio tua di sudut yang lain, foto-foto lawas Kota Malang yang terpajang di dinding, semua itu seakan-akan membawa kita merasakan suasana tempoe doeloe. Bisa sekaligus bernostalgia juga bagi para pengunjung berusia lanjut.

Sumber: https://myeatandtravelstory.wordpress.com/2018/06/14/toko-oen-yang-legendaris-malang/ (by eat and travel story)

Coba tengok seragam para pelayannya. Mereka mengenakan atasan dan bawahan putih lengkap dengan peci di kepala. Benar-benar seragam ala tempoe doeloe. Suasana tempoe doeloe di Toko Oen bukan hanya bisa dilihat, melainkan bisa juga dirasa. Di sana, kalian bisa mencicipi aneka kue Belanda zaman dahulu yang tertata rapi di etalase di dekat pintu masuk.

Toko Oen di Malang bermula dari toko kue di Yogyakarta yang didirikan Liem Gien Nio alias Oma Oen pada 1910. Ia adalah warga Tionghoa keturunan Belanda. Pada 1922, Oma Oen mengembangkan bisnis toko kuenya dengan turut menjual es krim dan melengkapinya dengan restoran. Pada 1930-an, Oma Oen membuka cabang Toko Oen di tiga kota, yakni Semarang, Jakarta, dan Malang.

Sumber: https://www.satyawinnie.com/2013/12/es-krim-oen-old-fashioned-ice-cream-di.html (by Satya Winnie)

Sungguh sayang, pada 1950-an, cabang di Yogyakarta dan Jakarta tutup. Hanya yang di Semarang dan di Malang yang masih bertahan. Cabang di Semarang tetap dikelola oleh keturunan Oma Oen, sedangkan yang di Malang dikelola oleh pengusaha yang membeli restoran tersebut pada 1990.

Apa, sih, menu andalan Toko Oen di Malang? Kera Ngalam pasti tahu jawabannya. Betul kali, apalagi kalau bukan es krim. Es krim yang cukup laris dibeli adalah Oen special, es krim tiga rasa yang disajikan dengan wafer dan astor. Harganya? Mon maaf, agak mahal, nih, yakni Rp55.000. Es krim lain yang juga jadi favorit pengunjung adalah corn ice cream. Potongan jagungnya itu, lho, yang bikin maknyuss. Harganya? Lagi-lagi, mon maaf, nih, agak mahal juga, yakni Rp45.000.

Selain es krim, Toko Oen masih punya beragam menu lain. Ada makanan barat, seperti salad, steak, dan burger. Ada makanan China, seperti bakmi, nasi goreng, dan kepiting. Makanan Indonesia juga ada, misalnya sop buntut, nasi campur, dan semur. Harga makanan dan minuman di Toko Oen memang agak menguras kantong. Rata-rata di atas Rp40.000. Untuk es krim saja, yang paling murah ialah Rp25.000.

Sumber: https://www.idntimes.com/food/dining-guide/putriana-cahya/menjajal-sentuhan-es-krim-warisan-belanda-di-toko-oen-malang/full (by IDN Times/Reza Iqbal)

Namun, tidak ada salahnya, kan jika sekali-kali kita merogoh kocek agak dalam untuk menyenangkan perut kita? Nah, kalau kalian mau puas icip-icip makanan dan minuman di Toko Oen, Malang, mulai menabung, yuk, dari sekarang. Dijamin kalian tidak menyesal mengeluarkan uang cukup banyak untuk makan di sana. Makanannya yang lezat, es krimnya yang nikmat, plus suasananya yang tempoe doeloe banget, it’s all worth it!

Gak sulit, kok, menemukan Toko Oen. Restoran tersebut berada di Jalan Jenderal Basuki Rahmat yang mana dekat dengan alun-alun Kota Malang. Oh, ya, Toko Oen masih sering dikunjungi warga Belanda, lho. Dulu, ketika  pertama kali berdiri, kebanyakan pelanggannya adalah warga Belanda. Sekarang, mereka masih suka ke sana untuk bernostalgia sambal mengajak anak dan cucu mereka.

Komentar