27.Feb.2018

Apa Rasanya Tinggal di Monowi, Kota Paling Sepi di Dunia?


Buat kamu yang pernah mudik ke kampung halaman tempat nenek tinggal, mungkin suasananya gak sehingar-bingar Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Jam tujuh malem udah sepi, mall cuma ada satu, bioskop malah tak tampak. Satu-dua hari, sih, mungkin terasa enak buat a�?detoksa�? dari kehidupan kota besar, tapi kalau kelamaan bisa bikin mati gaya!

0
0
0

Sesepi-sepinya kota yang pernah kamu datengin, berani taruhan gak ada yang bisa ngalahin sepinya Monowi di Nebraska. Kota ini cuma berisi gereja terbengkalai yang kursinya dipenuhin rongsokan alat berat dan deretan rumah yang hampir roboh. Nah, di antara deretan rumah-rumah ini, ada satu rumah yang dihuni nenek berumur 84 tahun bernama Elsie Eiler. Dia adalah satu-satunya penduduk kota Monowi!

sumber foto:A�wikimedia.org

Meskipun gak muda lagi, nenek Elsie masih enerjik. Tiap hari dia masak dan menghidangkan bir dingin di barnya buat pengunjung yang penasaran sama kota ini. Dia resmi jadi satu-satunya penduduk Monowi setelah Rudy, suaminya, meninggal di tahun 2004. Berhubung dia satu-satunya yang tinggal di sini, Elsie otomatis jadi walikota, pegawai kota, pustakawan, sekaligus warga di kota terkecil di Amerika Serikat ini!

sumber foto:A�refinery29.com

Lebih lucunya lagi, walaupun tinggal sendirian, Elsie tetep a�?menjalankana�? kota ini layaknya kota-kota lain. Tiap tahun dia masang sendiri pengumuman masa pemilu terus voting buat dirinya sendiri! Dia juga diwajibkan bikin rencana tahunan pembangunan kota supaya bisa dapet dana dari pemerintah dan mengenakan pajak tahunan ke DIRINYA SENDIRI sebesar US$500 supaya lampu dan air kota Monowi tetep nyala. Bukan cuma itu, dokumen-dokumen penting yang biasa diterima sekretaris kota pun diterima Elsie sendiri (kan dia yang menjabat sekretaris juga!), ditandatangani sendiri, terus dia simpen sendiri, deh.

sumber foto:A�hirhatar.com

Dulu, di tahun 1930an, Monowi belom sesepi sekarang. Kota ini dulu ditinggali 150 orang dan dilengkapi supermarket, restoran, bahkan penjara. Nah, Elsie dulunya justru tinggal di pertanian yang berjarak 40 kilometer dari Monowi. Setelah nikah dan punya dua anak, dia dan Rudy, suaminya, sepakat merenovasi kedai punya ayahnya Elsie di tahun 1971.

Sayangnya, gak lama abis kedainya dibuka, kondisi kota Monowi justru memburuk gara-gara Perang Dunia II. Setelah pemakaman ayah Elsie di tahun 1960, kantor pos Monowi pun tutup, diikuti tiga supermarket, dan sekolah di tahun 1974. Gara-gara ini, populasi Monowi pun berkurang dratis jadi 18 jiwa aja. Nah, dua puluh tahun kemudian, warga yang bertahan pun tinggal Elsie dan Rudy, lalu berkurang lagi jadi Elsie seorang.

sumber foto:A�messynessychic.com

Terus, apa rasanya tinggal sendirian di sebuah kota? Emangnya gak kesepian? Ternyata Elsie gak, lho! Soalnya, tiap hari dia kedatengan tamu di barnya. Thanks to media, tiap hari banyak orang dari seluruh penjuru dunia mampir ke Monowi karena pengin liat langsung gimana suasana kota tersepi di dunia. Makanya, meskipun dia bisa aja pindah ke tempat anaknya yang tinggal di Ponca (berjarak 144 km dari Monowi), Elsie tetep ngerasa lebih betah di Monowi karena di kota inilah dia justru rutin kedatengan temen lama maupun baru. Hmmma�� kamu tertarik ke sana buat kenalan sama nenek Elsie?

Komentar