8 Game Tradisional Seru dari Seluruh Dunia yang Bisa Kamu Cobain


Anak jaman sekarang biasanya main apa, sih? Mister lihat di mana-mana bocah sibuk nunduk main gadget, deh. Udah jarang banget yang berkeliaran main kejar-kejaran tiap sore. Nah, daripada terpaku sama HP, tablet, atau PSP, coba ajak adik, murid, keponakan, atau anak tetangga kamu untuk nyobain 10 permainan tradisional dari seluruh dunia ini. Seru-seru dan pastinya murah meriah!

0
0
0

1. Chile: Corre, Corre la Guaraca

Kalau diterjemahin, nama permainan ini berarti “Lari, Lari, la Guaraca." Siapakah la Guaraca? Gak usah capek-capek mikir, karena kata ini gak ada artinya alias bunyi-bunyian aja.

 

sumber foto: niassocialstudiesexplorations.blogspot.co.id

Pemain: butuh 5 orang atau lebih dengan usia 5 tahun ke atas.

Alat yang dibutuhkan: saputangan.

Cara main: Para pemain duduk melingkar sementara ada satu orang yang bawa-bawa saputangan sambil lari keliling lingkaran. Anak-anak yang lagi duduk gak dibolehin untuk ngintip si pelari. Sambil duduk, mereka harus nyanyi "Corre, Corre, la Guaraca, siapa yang nengok kepalanya bakal ditepuk!" Sambil diiringi nyanyian, si pelari bakal jatuhin saputangan di kepala salah satu anak terus lanjut lari. Kalau dia bisa lari satu keliling tanpa ketahuan anak yang dijatuhin saputangan, maka si anak tersebut kalah. Nah, kalau anak yang dapet saputangan keburu sadar duluan, dia harus ngejar si pelari. Kalau ketangkep, berarti si pelarilah yang kalah. Kalau gak ketangkep? Yaaa, main lagi, deh.

2. Greece: Statues

Namanya juga negeri asal kisah dewa Zeus dan kawan-kawan. Gak heran anak-anak Yunani akrab sama patung-patung dewa yang udah ada sejak jaman dulu. Makanya, mereka punya permainan yang berhubungan sama sejarah mereka ini.

 

sumber foto: ancientfacts.net

Pemain: Empat orang atau lebih dengan usia 4 tahun ke atas.

Alat yang dibutuhkan: Apa pun yang tersedia di lapangan. Bisa ranting kayu, bola, batu, dan lain-lain.

Cara main: Satu orang harus berjaga sambil berdiri dengan mata tertutup di tengah lapangan terbuka. Abis itu, dia harus ngitung 1-10, bisa juga lebih, pokoknya terserah dia kapan mau berhenti. Sementara pemain yang berjaga lagi ngitung, pemain yang lain bakal lari ke segala arah. Nanti, pemain yang berjaga tiba-tiba bakal teriak “Agalmata!” yang berarti patung dalam bahasa Yunani. Begitu denger kata ini, pemain lain yang lagi lari harus langsung diem di tempat sambil niruin pose ala patung terkenal. Mau patung Liberty atau Tugu Pancoran, bebas! Mereka juga dibolehin manfaatin benda sekitar kayak batu, kayu, bola, dan sebagainya supaya keliatan makin mirip patung. Kalau ada yang gerak atau ketawa, berarti dia yang kalah. Pemain yang paling terakhir gerak langsung ambil peran jadi penjaga.

3. Pakistan: Oonch Neech

Mirip game asal Indonesia, anak-anak Pakistan juga main kejar-kejaran di tanah lapang.

sumber foto: apsdighi.com

Pemain: Empat orang atau lebih dengan usia 5 tahun ke atas.

Alat yang dibutuhkan: Lapangan terbuka yang dipenuhi pohon, seluncuran, ayunan, batu-batuan, dan kursi.

Cara main: Satu anak harus berjaga. Dia harus milih salah satu: berdiri (oonch) atau duduk (neech). Kalau si anak milih neech, berarti pemain yang lain gak bisa ditangkep kalau mereka lagi berdiri di atas sesuatu, misalnya batu atau kursi. Kalau mereka berdiri biasa di atas tanah sih sah-sah aja ditangkep. Sebaliknya, kalau anak yang jaga milih oonch, berarti pemain yang lain gak bisa ditangkep kalau mereka jongkok. Wah, mirip-mirip kayak petak jongkok di sini, ya. Bisa sekalian jadi olahraga, lho.

4. Ghana: Pilolo

Di daerah perdesaan di Ghana, Afrika Barat, di mana jumlah mainan terbatas, anak-anak di sana rupanya gak kekurangan cara buat seneng-seneng. Catatan: abaikan model dalam foto yang gak bisa dibilang anak-anak.

sumber foto: africa.rizing.org

Pemain: Enam orang dengan usia 4 tahun ke atas.

Alat yang dibutuhkan: tongkat kayu dan batu-batu. Gak ada? Pake koin-koin juga bisa, kok.

Cara main: Sebelum main, tentuin dulu pemimpin dan pencatat waktu, terus tentuin juga garis finish-nya. Abis itu, si pemimpin sembunyiin koin-koin di sekitar tempat bermain sementara pemain yang lain tutup mata. Pencatat waktu bakal berdiri di garis finish buat nentuin siapa pemain yang sampai pertama kali. Begitu pemimpin bilang “Pilolo!” (yang berarti “waktunya cari!”), pencatat waktu mulai merhatiin mana pemain yang berhasil nemuin koin pertama kali dan lari ke garis finish. Pemain yang menang ngedapetin satu poin. Kalau masih belum puas main, tentuin lagi deh, siapa yang jadi pemimpin dan pencatat waktu. Pemain yang dapet poin paling banyak dialah pemenangnya.

5. Korea Utara dan Selatan: Kongki Noli

Kalau Indonesia punya permainan bola bekel, Korea punya kongki noli. Bisa dibilang, bekel versi Korea ini agak lebih susah karena mereka gak pakai bola yang bisa mantul dulu untuk mengulur waktu. Meskipun jaman sekarang Korea (khususnya Selatan) udah modern banget, mereka berhasil mempertahankan game tradisionalnya. Tiap tahun, anak-anak korea ngerayain banyak festival sambil mainin kongki noli ini.

sumber foto: wikimedia.org

Pemain: Dua pemain atau lebih dengan usia 5 tahun ke atas.

Alat yang dibutuhkan: Lima batu kecil.

Cara main: Anak yang dapet giliran main nyebarin lima batu kecil di lantai/tanah. Abis itu, dia harus pilih satu batu buat dilempar ke atas. Selama batu itu melayang, dia harus ngambil satu lagi batu dari tanah lalu langsung nangkep batu yang dilempar. Kemudian, dia harus lempar lagi salah satu batu dalam genggaman dia lalu ngambil satu batu lainnya yang ada di tanah. Teruuus aja begitu sampai semua batu ada di dalam tangan dia. Abis itu, dia harus nyebar lagi batu-batunya dan ngambil dua batu sekaligus, tiga batu sekaligus, dan seterusnya. Terakhir, si pemain ngelempar semua batu dalam tangan dia dan coba nangkep dengan punggung tangannya. Abis itu, dilempar lagi, deh, buat ditangkep dengan telapak tangan. Pemenang game ini adalah anak yang berhasil nangkep batu paling banyak. Mirip banget, kan, sama bola bekel?

6. Australia: Skippyroo Kangaroo

Saking akrabnya sama kanguru, anak-anak playgroup dan TK di Australia ngambil nama hewan ini untuk dijadiin permainan tradisional mereka yang populer. Kalau main ini, dijamin anak-anak bakal happy dan pinter, deh. Kenapa? Soalnya banyak gerak, ada lagunya, dan ngajarin mereka untuk punya kemampuan mendengar yang bagus.

sumber foto: vice.com

Pemain: Bisa dimainkan hingga 25 orang dengan usia 3 tahun ke atas.

Cara main: Anak-anak yang bermain duduk melingkar. Abis itu, ada salah satu anak yang diminta berdiri di tengah lingkaran buat jadi Skippyroo the kangaroo. Anak yang jadi Skippyroo harus jongkok sambil tutup mata sementara anak-anak lain yang duduk melingkar nyanyi: "Skippyroo, kangaroo, dozing in the midday sun, comes a hunter, run, run, run." Selama nyanyian berlangsung, salah satu anak yang duduk melingkar harus nyentuh pundak si Skippyroo sambil ngomong, "Guess who's caught you just for fun?". Nah, si Skippyroo harus nebak siapa nama anak yang megang pundak dia dari suaranya. Kalau tebakannya bener, mereka tuker peran. Teruuus aja begitu sampai semua anak yang ikutan game ini kebagian peran jadi Skippyroo.

7. Israel: Go-Go-Im

Permainan ini biasanya dimainin pas musim panas, waktu aprikot lagi ranum-ranumnya. Jadi, anak-anak di sana bakal bikin kotak berlubang-lubang dari kardus dan dijadiin ‘gawang’ buat masukin biji aprikot.

sumber foto: stmamonw.blogspot.co.id

Pemain: Dua orang atau lebih dengan usia 5 tahun ke atas.

Alat yang dibutuhkan: Sekurang-kurangnya 20 biji aprikot buat tiap pemain. Berhubung di sini susah nyari aprikot, biji ini bisa diganti kerikil, kok! Jangan lupa, cari kotak sepatu juga ya buat tiap pemain!

Cara main: Sebelum main, anak-anak butuh bantuan orang dewasa buat ngegunting 6 lubang dengan berbagai ukuran di kotak sepatu bekas mereka. Makin kecil lubangnya, makin besar nilainya, mulai dari 1 – 100 poin. Para pemain harus berdiri minimal jarak 150 sentimeter dari kotak sepatu. Abis itu, pemain bakal coba ngelemparin biji aprikot ke kotak sepatu lawan. Sebagai contoh, kalau biji si A masuk ke lubang kotak si B yang punya nilai 20, maka si B harus ngasih 20 biji aprikot ke si A. Kalau lemparan A gak berhasil masuk ke lubang mana pun, maka biji dia harus dikurangi satu. Oiya, kotak sepatunya juga bebas dihias sebagus mungkin, lho. Bisa bikin anak jadi kreatif, nih!

8. Armenia: Egg Jousting

Biasanya, telur dipakai buat jadi bagian dari perayaan Paskah. Tapi di Armenia, anak-anaknya pakai telur rebus warna-warni buat dilubangi dalam permainan.

sumber foto: josie-curran.com

Pemain: Minimal 2 orang dengan usia 3 tahun ke atas.

Alat yang dibutuhkan: telur rebus warna-warni buat tiap pemain.

Cara main: Sambil berhadapan, dua anak yang bermain mengadu telur mereka masing-masing di bagian ujung kecilnya sampai ada salah satu telur yang retak. Abis itu, mereka bakal mengadu lagi ujung telur mereka yang besar. Biasanya, telur rebus bisa tahan 3-4 kali sebelom akhirnya retak. Nantinya, telur yang retak bakal dikasih ke sang pemenang sebagai piala. Abis itu, biasanya telurnya dibuat jadi roti lapis telur, deh! Enak, ya, abis main langsung isi perut.

Komentar

Tinggalkan Komentar: