Tari Fataele, tari perang dari Nias
09.Apr.2019

6 Tari Perang dari Indonesia yang Seru buat Ditonton


Indonesia adalah negara kepulauan yang menyimpan kekayaan budaya. Salah satu kekayaan budaya itu tercermin lewat seni tari. Tari perang misalnya. Dalam pertunjukkan tari perang, penari biasanya menggunakan properti berupa senjata. Di bawah ini adalah enam contoh tari perang dari Indonesia yang berasal dari lima provinsi. Seru banget, lho, buat ditonton!

0
0
0

1. Tua Reta Lo’u, Nusa Tenggara Timur

Tua Reta Lo’u, tari perang dari NTT

Sumberhttps://www.twgram.me/media/1923431843158224318_5550550672 (diambil dari Instagram 繁文網頁版)

Tua Reta Lo’U, tari perang asal Desa Doka, Kabupaten Sikka. Gerakan tari ini melambangkan teknik perang suku Sikka Krowe, leluhur warga Desa Doka. Properti yang digunakan penari adalah bambu, pedang, dan tameng. Ditarikan secara berkelompok oleh wanita dan pria, tari Tua Reta Lo’u terdiri dari tiga bagian.

Bagian pertama, penari melompat-lompat di antara bambu-bambu yang saling dibenturkan penari lain. Bambu diletakkan di tanah. Penari harus bisa menghindarkan kakinya agar tidak terjepit bambu. Bagian ini disebut awi alu. Pada bagian kedua, penari bergerak untuk menghindarkan kepalanya agar tidak terbentur bambu. Di bagian yang disebut mage mot ini, bambu diletakkan sejajar dengan telinga penari.

Bagian ketiga adalah bagian yang paling bikin merinding sekaligus takjub. Pada bagian ini, seorang penari memanjat sebilah bambu, lalu dengan bertumpu pada perut ia berputar-putar di atas bambu sambil menggerak-gerakkan pedang. Tari Reta Lo’u dibawakan untuk menyambut tamu. Jika penari mengacungkan pedang ke tamu, itu tandanya si tamu telah diterima dengan baik.

Penasaran dengan tari Tua Reta Lo'u? Kamu bisa nonton videonya di sini.

2. Caci, Nusa Tenggara Timur

Sumberhttps://beritagar.id/artikel/piknik/adu-cambuk-dan-kedewasaan-laki-laki-suku-manggarai (diambil dari Dwi Prayoga/Shutterstock.com)

Satu lagi tari perang dari Provinsi NTT, tari Caci. Tari yang berasal dari Desa Tado ini dibawakan dua penari pria yang saling bertarung satu sama lain. Artinya, penari harus siap luka-luka. Seorang penari bertugas menyerang, sedangkan penari yang lain berusaha menghindar dari serangan. Si penyerang yang disebut paki membawa senjata berupa cambuk. Si penerima serangan yang disebut taang melindungi diri dengan perisai dan busur.

Saat membawakan tari ini, penari mengenakan semacam topi yang mirip tanduk kerbau. Namanya panggal. Untuk bawahan, penari mengenakan celana panjang putih dan kain tradisional yang disebut songke. Sebagai pelindung tubuh bagian belakang, penari mengenakan handuk yang menutupi leher bagian belakang dan semacam ekor kuda untuk melindungi tulang belakang.

Tahu nggak kalau zaman dulu, tari Caci dibawakan sebagai ajang tebar pesona? Melalui tari ini, laki-laki berusaha menarik perhatian perempuan dengan bertarung mengarahkan lawan. Mereka ingin menunjukkan keperkasaan di hadapan para gadis. Namun, makna sebenarnya dari tari ini adalah sebagai bentuk ucapan syukur pada Tuhan atas berkat yang diperoleh.

Tonton video tari Caci di sini.

3. Cakalele, Maluku

Zaman dulu, tari Cakalele dibawakan para prajurit yang hendak berangkat ke medang perang atau pulang dari medang perang. Dalam bahasa setempat, caka berarti roh dan lele berarti mengamuk. Konon katanya, di tengah-tengah menari, ada prajurit yang kerasukan roh yang membuatnya berteriak, “Aulee aulee” yang artinya adalah banjir darah.

Zaman sekarang, tari Cakalele sering ditampilkan pada upacara adat. Tarian ini dibawakan secara berkelompok yang terdiri dari pria dan wanita. Properti yang digunakan penari pria adalah parang dan tameng berbentuk persegi panjang, sedangkan yang digunakan penari wanita adalah sapu tangan.

Sumberhttps://www.kamerabudaya.com/2016/11/tari-cakalele-tarian-tradisional-dari-provinsi-maluku-utara.html

Gerakan dalam tari ini dibuat layaknya prajurit yang sedang berperang. Tentu saja, gerakan ala prajurit perang tersebut dibawakan penari pria. Sementara itu, karena hanya sebagai pengiring penari pria, maka gerakan penari wanita lebih lemah lembut.

Khusus di Banda Neira, pulau di Provinsi Maluku, tari Cakalele ditampilkan berbeda dengan adanya lima bambu yang dililit kain merah di tengah-tengah penari. Kain merah tersebut melambangkan kematian dari 44 warga Banda Neira yang dibantai bangsa Belanda pada 1622. Pembantaian merupakan pembalasan Belanda atas tewasnya 41 orang Belanda di tangan warga Banda Neira.

Video tari Cakalele bisa kamu tonton di sini.

4. Tobe, Papua

Tari Tobe, tari perang dari Papua

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=DX11HeXHse4

Tari Tobe merupakan tari perang khas suku Asmat, suku yang mendiami Papua. Dulu, tari Tobe dibawakan untuk memberi semangat bagi warga yang akan berperang. Kini, tari Tobe ditampilkan sebagai tari pertunjukkan, misalnya untuk menyambut tamu penting yang datang ke Papua. Tari ini dibawakan oleh pria yang bertelanjang dada dan mengenakan rok yang terbuat dari akar dan daun. Tak lupa, di bagian kepala terpasang ikat kepala khas Papua. Adalah tombak dan busur, properti yang digunakan dalam tari ini. Sementara itu, alat musik pengiringnya ialah tifa.

Klik ini kalau kamu ingin nonton video tari Tobe.

5. Fataele, Sumatera Utara

Tari Fataele, tari perang dari Nias

Sumberhttp://wonderfulnias.com/id/mengenal-tari-perang-nias-falaete/

Dari Indonesia Timur, kita geser ke Indonesia Barat. Fataele adalah tari perang khas Pulau Nias, pulau yang terletak di Provinsi Sumatera Utara. Gerakan dalam tari ini menggambarkan suasana perang saudara. Tari Fataele biasa ditampilkan secara massal oleh puluhan laki-laki, baik tua maupun muda. Pertunjukkan tari Fataele kian semarak dengan teriakan-teriakan dari para penarinya. Properti yang digunakan dalam tari ini adalah pedang, tombak, dan perisai. Konon katanya, pedangnya punya kekuatan magis yang dapat membuat tubuh kebal.

Perselisihan kakak beradik yang tinggal di Desa Orahili Fau, Nias diyakini sebagai asal-usul terciptanya tari Fataele Singkat cerita, Desa Orahili Fau diserang Belanda sehingga penduduknya, termasuk kakak beradik ini melarikan diri ke desa lain agar selamat. Selang beberapa tahun kemudian, dua orang termuda dari kakak beradik ini kembali ke Desa Orahili Fau untuk membangun rumah adat yang dihancurkan Belanda. Ketika kedua adik ini sibuk membangun rumah adat, si kakak tertua malah pergi berburu dan tidak ikut membantu sama sekali. Kedua adik pun kesal terhadap kakak mereka dan dari sinilah awal perselisihan terjadi.

Ingin nonton video tari Fataele? Kamu bisa klik ini.

6. Soreng, Jawa Tengah

Sumberhttp://www.koranmadura.com/2015/08/mantra-lima-gunung-serbu-kota/ (diambil dari Ist)

Tari Soreng berkembang di Magelang, Jawa Tengah. Gerakan dalam tari ini menceritakan kisah Arya Penangsang ketika ia dan teman-teman prajuritnya berusaha merebut Kerajaan Pajang. Dalam pertunjukkanya, tari Soreng dibawakan 10—12 penari laki-laki yang terbagi dalam dua kelompok. Tiap kelompok mengenakan kostum dengan warna berbeda yang berarti bahwa kedua kelompok tersebut saling bermusuhan. Kostum yang dikenakan biasanya bermotif bunga. Sama seperti kelima tari sebelumnya, penari tari Soreng juga menggunakan properti, yakni tombak dan kuda buatan yang terbuat dari bambu. Soreng sering ditampilkan pada acara khitanan dan pernikahan.

Langsung klik ini untuk nonton video tari Soreng.

Komentar